More

    Percayalah, Tidak Mudik itu Karena Sayang

    Tidak lama lagi, saat-saat dimana jutaan orang akan meninggalkan Jakarta untuk sementara dan pulang ke kampung masing-masing akan tiba. Biasanya, ini merupakan momen yang sangat dinanti-nantikan. Cuma setahun sekali. Ada yang sudah membeli tiket untuk pulang dari jauh-jauh hari sebelumnya, mau itu tiket kereta, bus, maupun pesawat. Dan bahkan seringkali, tiket sudah terjual habis beberapa bulan sebelumnya.

    Lebaran, walaupun saya tidak merayakan, tapi suasana mudik seperti itu sudah tidak asing lagi. Yah, selain merayakan hari kemenangan setelah sebulan puasa penuh, ini juga satu-satunya momen dimana kebanyakan orang bisa menikmati liburan lebih panjang daripada hari-hari besar lainnya dalam sepanjang tahun. Bisa istirahat dari kerja lebih lama, bisa kumpul dengan keluarga lebih lama, dan bisa juga pergi jalan-jalan lebih lama.

    Saya mengerti.

    Namun, tahun ini akan berbeda. Kita harus melakukan sesuatu yang berbeda karena kondisi kita tahun ini juga berbeda. Bukan hanya kita, tapi negara kita, Indonesia, bersama dengan lebih dari 200 negara lainnya sedang mengalami kondisi pandemi dari Virus COVID-19. Penyebarannya yang begitu cepat telah menginfeksi jutaan orang dan juga membawa kematian lebih dari enam puluh ribu orang ini di seluruh dunia.

    Berbagai cara sudah mulai dilakukan untuk mencegah meluasnya penyebaran virus ini. Dari himbauan pemakaian masker, social distancing, pengurangan jam operasional usaha, karyawan kantor dianjurkan untuk kerja dari rumah, dan berbagai cara lainnya. Namun, jumlah kasus tetap terus bertambah setiap harinya terutama di kota Jakarta yang sekarang sudah dianggap sebagai pusat pandemi di Indonesia.

    Kurang Lebih Tiga Minggu Lalu…

    Saya masih ingat, saya masih bertukar pesan lewat Whatsapp dengan teman saya yang tinggal di Singapura dan membahas soal kondisi di negara kita masing-masing sehubungan dengan COVID-19 ini. Teman saya sudah membeli tiket untuk berkunjung ke Indonesia di bulan Mei tahun ini dan dia menyampaikan kekhawatirannya kalau sampai kunjungan ke negara kita masing-masing akan dibatasi. Saat itu, saya masih berkata bahwa rasanya itu tidak akan terjadi.

    Ternyata saya salah. Karena kurang lebih sepuluh hari kemudian, Singapura mengeluarkan peraturan untuk membatasi kunjungan wisatawan asing ke negaranya. Bahkan penduduk Singapura sendiri harus menyiapkan surat kesehatan dan surat-surat lainnya bila memang harus melakukan perjalanan keluar masuk ke Singapura sendiri. Dan perjalanan hanya boleh dilakukan setelah mendapat persetujuan dari bagian imigrasi.

    Di dalam pikiran saya sewaktu membahas soal itu dengan teman saya, kalau sampai Indonesia yang menurut pendapat banyak orang bahwa penduduknya mempunyai daya tahan tubuh lebih baik, harus sampai menerapkan peraturan serupa, yakni tidak memperbolehkan pengunjung asing untuk datang ke Indonesia, maka itu berarti situasi sudah benar-benar gawat darurat. Dan kenyataanya, itu sudah terjadi di awal bulan ini.

    Kenapa #tidakmudik?

    Di tahun 2019, diperkirakan jumlah arus mudik dari Jakarta ada sekitar 7.8 juta orang. Melihat kondisi merebaknya penyebaran virus COVID-19 yang begitu cepat dan juga besarnya jumlah orang yang akan mudik menjelang lebaran, maka pemerintah menghimbau para perantau untuk tidak mudik dulu tahun ini. Ini ditujukan untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 di negara kita. Virus itu tidak bisa jalan-jalan sendiri, kitalah manusia yang membawanya kemana-mana.

    Bukan hanya soal tidak mudik saja yang dihimbau, masyarakat juga dihimbau untuk tidak jalan-jalan ke luar kota selama periode tersebut sampai situasi pulih kembali. Adapun himbauan dari pemerintah ini untuk kebaikan kita bersama karena kita tidak pernah tahu apakah kita atau orang lain terinfeksi dengan COVID-19 ini. Karena banyak orang yang ternyata carrier yang tidak menunjukkan gelaja-gejala infeksi sama sekali. Semua masyarakat dihimbau untuk mengurangi pergerakan di luar rumah #DiRumahAja demi mengurangi potensi penularan COVID-19 ini.

    Coba bayangkan, seandainya saja seperempat dari 7.8 juta orang yang mudik itu yang ternyata adalah carrier dan mereka ketemu dengan keluarga, sanak saudara, bahkan teman-teman di kampung halaman dengan resiko penularan 75% saja, maka sudah berapa banyak penambahan jumlah orang yang tertular? Belum lagi kalau keluarga, sanak saudara, dan teman-teman tersebut bertemu lagi dengan orang-orang lain, penularan akan terus berlanjut dari 1, 2, 4, 8, hingga ada kemungkinan tidak bisa terkendali lagi jumlahnya.

    Belum lagi resiko penularan ke orang-orang lanjut usia termasuk orang tua kita yang sangat tinggi. Dari hasil pengamatan sejak merebaknya virus ini, dilaporkan bahwa kategori ini sangat rentan terhadap virus ini dan bila terinfeksi, 1 di antara 4 orang biasanya akan meninggal dunia. Kita tentunya tidak menginginkan hal ini terjadi apalagi kemungkinan penyebabnya adalah dari diri kita sendiri.

    Selain itu, mengingat belum semua daerah memiliki alat kesehatan yang memadai terutama untuk menangani virus COVID-19 ini, bukankah tingkat kefatalan akan semakin tinggi bila makin banyak daerah-daerah yang terpapar dengan virus ini? Bahkan untuk kota besar seperti Jakarta, masih banyak dibutuhkan tenaga medis untuk berjuang keras menyelamatkan pasien-pasien yang ada.

    Lalu Bagaimana Kalau #tidakmudik?

    “Saya sudah rindu kampung halaman!”

    “Saya sudah lama tidak ketemu keluarga.”

    “Saya kehilangan pekerjaan saya karena COVID-19 ini.”

    Selain karena mudik sudah secara tidak langsung menjadi tradisi tiap tahun menjelang lebaran, berbagai hal lain bisa menjadi alasan untuk ingin pulang kampung. Saya yakin soal rindu kampung halaman, keinginan untuk bertemu keluarga itu dialami semua orang terutama yang merantau di Jakarta, jauh dari keluarga. Cuma kalau masih bisa bertahan untuk tidak pulang, akan sangat amat disarankan untuk tidak mudik dulu tahun ini.

    Banyak cara untuk kita terhubung dengan keluarga atau orang yang kita sayangi nun jauh di sana. Misalkan, dengan video call atau chatting lewat aplikasi yang sudah ada dan juga lewat berbagai macam platform sosial media yang makin hari makin banyak juga. Banyaklah fasilitas yang sudah ada di zaman sekarang ini yang bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya terutama di saat-saat seperti sekarang ini.

    Kalau tidak ada internet di kampung halaman, kita bisa kembali ke cara lama dengan menelepon orang tua atau keluarga kita. Semua ada caranya asalkan kita mau. Memang, semua cara-cara tersebut itu tidak akan bisa mewakili rasa yang ada ketika kita bertemu secara langsung. Pertemuan dan percakapan secara virtual memang tidak akan pernah sama. Sebagai seorang perantau yang jauh dari keluarga juga, saya mengerti. Namun, untuk saat-saat ini, semua itu adalah cara-cara yang terbaik.

    Keluarga di kampung halaman akan tetap ada menunggu kita pulang setelah kondisi membaik. Karena untuk mengalahkan penyebaran dan penguasaan dari virus ini tidak bisa dilakukan hanya beberapa pihak. Sebaliknya, kita semua perlu sepaham dan sama-sama bergandengan tangan berupaya untuk menekan penyebaran virus ini sampai benar-benar terputus rantai penyebarannya. Dengan demikian, negara kita bahkan dunia baru bisa sembuh dari semua ini.

    • • •

    Per hari ini, jumlah kasus positif di Indonesia sudah ada lebih dari dua ribu orang. Dibandingkan dengan total populasi di Indonesia secara keseluruhan yang berjumlah 264 juta saat ini, mungkin kita berpikir, jumlah kasus itu tidaklah seberapa. Cuma perlu diingat bahwa itu bukan hanya sekedar angka, tapi itu menyangkut nyawa manusia yang dimana kepulangan mereka ditunggu oleh keluarga juga.

    Kalau kita tidak bisa membantu secara fisik dalam menyelamatkan pasien-pasien yang terinfeksi virus COVID-19 ini seperti para pahlawan yang berada di garis depan, setidaknya kita bisa membantu dalam pencegahan penularan. Pengurangan jumlah penyebaran tetaplah lebih baik daripada tidak sama sekali. Dan apakah kamu bersedia untuk itu?

    Percayalah, tidak mudik itu karena sayang.

    peekholidays- 36 months weather

    Let me find you!

    I won't spam. Promise. As I hate spams, too!
    2,345FansLike
    1,410FollowersFollow
    540FollowersFollow
    255SubscribersSubscribe

    Let's Explore Together!

    From wildlife encounters, underwater, and mountain, to cultural festivals. If this sounds like something you want to do, join us on a tour for the adventure of a lifetime!

    You May Also Like