fbpx

Percayalah, Tidak Mudik itu Karena Sayang

Stay Updated

Receive monthly news on my stories and events right in you inbox.

No spam, I promise. As I hate spams, too!

Latest Photo

4,823 Followers
Follow

Member of

Travel-Blogger-Indonesia(300px)
Travel-Bloggers-Award

You may wanna watch

You may also like

Weekend Escape to Universal Studio Singapore

So....my sister got a free Universal Studios Singapore ticket from her company! Then we purchased another one ticket and there we headed...

Tidak lama lagi, saat-saat dimana jutaan orang akan meninggalkan Jakarta untuk sementara dan pulang ke kampung masing-masing akan tiba. Biasanya, ini merupakan momen yang sangat dinanti-nantikan. Cuma setahun sekali. Ada yang sudah membeli tiket untuk pulang dari jauh-jauh hari sebelumnya, mau itu tiket kereta, bus, maupun pesawat. Dan bahkan seringkali, tiket sudah terjual habis beberapa bulan sebelumnya.

Lebaran, walaupun saya tidak merayakan, tapi suasana mudik seperti itu sudah tidak asing lagi. Yah, selain merayakan hari kemenangan setelah sebulan puasa penuh, ini juga satu-satunya momen dimana kebanyakan orang bisa menikmati liburan lebih panjang daripada hari-hari besar lainnya dalam sepanjang tahun. Bisa istirahat dari kerja lebih lama, bisa kumpul dengan keluarga lebih lama, dan bisa juga pergi jalan-jalan lebih lama.

Saya mengerti.

Namun, tahun ini akan berbeda. Kita harus melakukan sesuatu yang berbeda karena kondisi kita tahun ini juga berbeda. Bukan hanya kita, tapi negara kita, Indonesia, bersama dengan lebih dari 200 negara lainnya sedang mengalami kondisi pandemi dari Virus COVID-19. Penyebarannya yang begitu cepat telah menginfeksi jutaan orang dan juga membawa kematian lebih dari enam puluh ribu orang ini di seluruh dunia.

Berbagai cara sudah mulai dilakukan untuk mencegah meluasnya penyebaran virus ini. Dari himbauan pemakaian masker, social distancing, pengurangan jam operasional usaha, karyawan kantor dianjurkan untuk kerja dari rumah, dan berbagai cara lainnya. Namun, jumlah kasus tetap terus bertambah setiap harinya terutama di kota Jakarta yang sekarang sudah dianggap sebagai pusat pandemi di Indonesia.

Kurang Lebih Tiga Minggu Lalu…

Saya masih ingat, saya masih bertukar pesan lewat Whatsapp dengan teman saya yang tinggal di Singapura dan membahas soal kondisi di negara kita masing-masing sehubungan dengan COVID-19 ini. Teman saya sudah membeli tiket untuk berkunjung ke Indonesia di bulan Mei tahun ini dan dia menyampaikan kekhawatirannya kalau sampai kunjungan ke negara kita masing-masing akan dibatasi. Saat itu, saya masih berkata bahwa rasanya itu tidak akan terjadi.

Ternyata saya salah. Karena kurang lebih sepuluh hari kemudian, Singapura mengeluarkan peraturan untuk membatasi kunjungan wisatawan asing ke negaranya. Bahkan penduduk Singapura sendiri harus menyiapkan surat kesehatan dan surat-surat lainnya bila memang harus melakukan perjalanan keluar masuk ke Singapura sendiri. Dan perjalanan hanya boleh dilakukan setelah mendapat persetujuan dari bagian imigrasi.

Di dalam pikiran saya sewaktu membahas soal itu dengan teman saya, kalau sampai Indonesia yang menurut pendapat banyak orang bahwa penduduknya mempunyai daya tahan tubuh lebih baik, harus sampai menerapkan peraturan serupa, yakni tidak memperbolehkan pengunjung asing untuk datang ke Indonesia, maka itu berarti situasi sudah benar-benar gawat darurat. Dan kenyataanya, itu sudah terjadi di awal bulan ini.

Kenapa #tidakmudik?

Di tahun 2019, diperkirakan jumlah arus mudik dari Jakarta ada sekitar 7.8 juta orang. Melihat kondisi merebaknya penyebaran virus COVID-19 yang begitu cepat dan juga besarnya jumlah orang yang akan mudik menjelang lebaran, maka pemerintah menghimbau para perantau untuk tidak mudik dulu tahun ini. Ini ditujukan untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 di negara kita. Virus itu tidak bisa jalan-jalan sendiri, kitalah manusia yang membawanya kemana-mana.

Bukan hanya soal tidak mudik saja yang dihimbau, masyarakat juga dihimbau untuk tidak jalan-jalan ke luar kota selama periode tersebut sampai situasi pulih kembali. Adapun himbauan dari pemerintah ini untuk kebaikan kita bersama karena kita tidak pernah tahu apakah kita atau orang lain terinfeksi dengan COVID-19 ini. Karena banyak orang yang ternyata carrier yang tidak menunjukkan gelaja-gejala infeksi sama sekali. Semua masyarakat dihimbau untuk mengurangi pergerakan di luar rumah #DiRumahAja demi mengurangi potensi penularan COVID-19 ini.

Coba bayangkan, seandainya saja seperempat dari 7.8 juta orang yang mudik itu yang ternyata adalah carrier dan mereka ketemu dengan keluarga, sanak saudara, bahkan teman-teman di kampung halaman dengan resiko penularan 75% saja, maka sudah berapa banyak penambahan jumlah orang yang tertular? Belum lagi kalau keluarga, sanak saudara, dan teman-teman tersebut bertemu lagi dengan orang-orang lain, penularan akan terus berlanjut dari 1, 2, 4, 8, hingga ada kemungkinan tidak bisa terkendali lagi jumlahnya.

Belum lagi resiko penularan ke orang-orang lanjut usia termasuk orang tua kita yang sangat tinggi. Dari hasil pengamatan sejak merebaknya virus ini, dilaporkan bahwa kategori ini sangat rentan terhadap virus ini dan bila terinfeksi, 1 di antara 4 orang biasanya akan meninggal dunia. Kita tentunya tidak menginginkan hal ini terjadi apalagi kemungkinan penyebabnya adalah dari diri kita sendiri.

Selain itu, mengingat belum semua daerah memiliki alat kesehatan yang memadai terutama untuk menangani virus COVID-19 ini, bukankah tingkat kefatalan akan semakin tinggi bila makin banyak daerah-daerah yang terpapar dengan virus ini? Bahkan untuk kota besar seperti Jakarta, masih banyak dibutuhkan tenaga medis untuk berjuang keras menyelamatkan pasien-pasien yang ada.

Lalu Bagaimana Kalau #tidakmudik?

“Saya sudah rindu kampung halaman!”

“Saya sudah lama tidak ketemu keluarga.”

“Saya kehilangan pekerjaan saya karena COVID-19 ini.”

Selain karena mudik sudah secara tidak langsung menjadi tradisi tiap tahun menjelang lebaran, berbagai hal lain bisa menjadi alasan untuk ingin pulang kampung. Saya yakin soal rindu kampung halaman, keinginan untuk bertemu keluarga itu dialami semua orang terutama yang merantau di Jakarta, jauh dari keluarga. Cuma kalau masih bisa bertahan untuk tidak pulang, akan sangat amat disarankan untuk tidak mudik dulu tahun ini.

Banyak cara untuk kita terhubung dengan keluarga atau orang yang kita sayangi nun jauh di sana. Misalkan, dengan video call atau chatting lewat aplikasi yang sudah ada dan juga lewat berbagai macam platform sosial media yang makin hari makin banyak juga. Banyaklah fasilitas yang sudah ada di zaman sekarang ini yang bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya terutama di saat-saat seperti sekarang ini.

Kalau tidak ada internet di kampung halaman, kita bisa kembali ke cara lama dengan menelepon orang tua atau keluarga kita. Semua ada caranya asalkan kita mau. Memang, semua cara-cara tersebut itu tidak akan bisa mewakili rasa yang ada ketika kita bertemu secara langsung. Pertemuan dan percakapan secara virtual memang tidak akan pernah sama. Sebagai seorang perantau yang jauh dari keluarga juga, saya mengerti. Namun, untuk saat-saat ini, semua itu adalah cara-cara yang terbaik.

Keluarga di kampung halaman akan tetap ada menunggu kita pulang setelah kondisi membaik. Karena untuk mengalahkan penyebaran dan penguasaan dari virus ini tidak bisa dilakukan hanya beberapa pihak. Sebaliknya, kita semua perlu sepaham dan sama-sama bergandengan tangan berupaya untuk menekan penyebaran virus ini sampai benar-benar terputus rantai penyebarannya. Dengan demikian, negara kita bahkan dunia baru bisa sembuh dari semua ini.

• • •

Per hari ini, jumlah kasus positif di Indonesia sudah ada lebih dari dua ribu orang. Dibandingkan dengan total populasi di Indonesia secara keseluruhan yang berjumlah 264 juta saat ini, mungkin kita berpikir, jumlah kasus itu tidaklah seberapa. Cuma perlu diingat bahwa itu bukan hanya sekedar angka, tapi itu menyangkut nyawa manusia yang dimana kepulangan mereka ditunggu oleh keluarga juga.

Kalau kita tidak bisa membantu secara fisik dalam menyelamatkan pasien-pasien yang terinfeksi virus COVID-19 ini seperti para pahlawan yang berada di garis depan, setidaknya kita bisa membantu dalam pencegahan penularan. Pengurangan jumlah penyebaran tetaplah lebih baik daripada tidak sama sekali. Dan apakah kamu bersedia untuk itu?

Percayalah, tidak mudik itu karena sayang.

Tracy Chonghttps://about.me/chongtracy
I love nature and I wish to swim with whales one day. If I am not exploring and working in front of my laptop, most likely I will spend the day trying out new recipes or spending time with family or friends.

12 COMMENTS

  1. Ortuku ada di Medan. Sementara mama mertua di JKT, yg mana rumahnya cm 5 menit jalan kaki dr rumahku. Tp Krn wabah ini, aku dan suami rela blm ketemu mama udh hampir sebulan mba. Kenapa, Krn kita berdua ga pengen jd carrier virus yg bisa menulari mama. Apalagi kami tau ,mama udh tua, punya penyakit jantung dan gula. Kangen, pastilaaah. Tp ditahan, toh bisa ngobrol Ama mama dr balik jendela kaca kamar :D. Yg ptg ga hadap2an lgs ke mama..

    Makanya kdg aku jg g ngerti Ama temenku yg keukeuh mau mudik ntr. Apa ga kasian yaa Ama ortunya di kampung :(. Pas ditanya kenapa ttp mau berangkat, jawabnya, ga enak kalo ga bisa ksh apa2 ke sodara pas lebaran.

    Ya ampuuuun jawaban yg menurutku bodoh sih. Di zaman skr transfer uang udh bisa melalui banyak cara. Ga hrs DTG sendiri buat ksh ke orang2 itu -_-. Semoga laaah ga sampe nyesel kemudian…

    • Wah, saya orang Medan juga. Salam kenal ya! 🙂

      Itu cerita dr balik jendela kamar, unik juga. Haha..iya nih, saya juga kangen ama keluarga.

      Iya, mungkin karena budaya orang Indo yang “sungkanan” ya, jadinya apa2 ga enakan kalo ga melakukan apa yang biasanya dilakukan. Saya juga ga habis mengerti untuk mereka yang kekeuh pulang tanpa alasan yang bener2 kuat, yang ga pulang bisa mati gitu misalkan. haha… Kita cuma bisa berharap jumlah yang mudik paling ga berkurang (banyak), kalo ga, ga kelar2 ini penyebarannya. Tiap hari jumlah nambah terus. Mending jumlah tabungan yang bertambah. hahaha..

      Sehat2 juga ya di sana, mbak ama keluarga! Kita bisa lalui ini semua dengan baik. Take care! 🙂

  2. Aku pun #tidakmudik dan #tidakpiknik kak meski godaan itu kuat tergurat. Sempat berpikir demikian, lalu kuurungkan niatku untuk keselamatan diri dan keluarga. Aku sadar aku bisa jadi symptomless carrier atau tertular saat berada di tengah perjalanan. Puji Tuhan selama #workfromhome di kost, pengeluaran justru lebih stabil.

    • Kalo Nugie pulangnya ke mana? Betul, sekarang soalnya banyak yang ga ada symptom tapi carrier. Memang lebih baik tahun ini dibatasi pergerakan dulu ya. Dipikir2 untuk kebaikan banyak orang. Sabar, Nugie! Liburannya ditambah di akhir tahun. haha..

      Aaa…bener juga, pengeluaran jadi lebih jelas juga sih selama #stayathome gini. Jadi tahu sebenarnya main expenses sebenarnya berapa sebulan. 🙂 Sehat2 selalu ya!

  3. Hai Tracy salam kenal hehe. Setuzu banget! Gak mudik itu tanda sayang. Meski saya di Depok dan orang tua saya di Bekasi, juga orang tua suami di Jogja, kami gak mengunjungi mereka karena takut malah kami jadi carier. Positifnya adalah malah jadi sering video call dan oper-oper cerita masakan, kegiatan hari ini, cerita kucing, senam, dan lain-lain. Jadi kangennya masih terobati deh 🙂

    • Hi Kak Justin! Salam kenal juga. 😀

      Waduh, dimana2 ya keluarganya. Haha..iya, itu yang paling ditakuti ya kak, tahu2 diri kita ternyata carrier dan menularkan ke keluarga. 🙁 Iya, bener. Hahaha..jadi sering contact2an dan saling ngecek, ngobrolin hal2 yang ga penting juga. haha..

  4. karena dulu saya pernah merantau cukup jauh, Sorong – Jakarta, jadi pernah juga gak pulang selama 2 tahun karena terkendala biaya tiket yang jaman dulu itu harganya bisa bikin jebol kantong luar dalam. Jadi kalaupun #tidakmudik pas lebaran juga tidak terlalu kangen banget, apalagi sekarang bisa memanfaatkan teknologi seperti video call kan.

    semoga wabah ini cepat berlalu dan orang bisa tetap sabar #dirumahaja karena #tidakmudik bisa menyelematkan berapa orang tuh ya.

    • Iya, sekarang waktu yang tepat untuk memanfaatkan fasilitas teknologi yang tersedia dengan sebaik-baiknya ya kak. Betul sekali kak, jumlah yang berkurang sudah berapa ya kalo dikalikan.

  5. Waduh, aku pun mikir lebih baik gak mudik, gak pualng kampung setelah Jakarta resmi ada yang positif. Walau kangen keluarga, tetep tahan dulu. Karena diri sendiri lah yang tahu betul kondisi keluarga. Semoga semuanya sehat dan wabah ini segera berakhir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here